Latest Posts

Senin, 03 Desember 2018


APBN ekspansif; HUTANG pemerintah Tidak Jahat!

Pembangunan, benar atau tidak pasti adalah beban terberat sebuah bangsa. Kehidupan dan kemakmuran sebuah bangsa bergantung pada mahir tidaknya denyut pembangunan ini menjalar ke seluruh wilayah. Mewujudkan pembangunan (perubahan kearah yang lebih baik) tidak mungkin tanpa ongkos. Untuk itulah keuangan Negara dibutuhkan. Secara khusus ia akan mendukung tercapainya pembangunan. Yang berarti mendukung tercapainya cita-cita dan tujuan berbangsa dan bernegara

Untuk mewujudkan tujuan Negara tersebut, Keuangan Negara tentunya menjadi senjata utamanya. Apabila program-program pemerintah dianalogikan sebagai sebuah pistol, maka keuangan Negara tersebut adalah pelurunya. Sebagai penentu tepat atau tidaknya sasaran yang akan ditembak. Hanya saja, namanya juga pistol. Mulai dari menarik pelatuk sampai peluru ditembakkan, akan mengundang perhatian banyak orang. Sementara, ada dua alasan dibalik rasa penasaran tersebut, yang pertama kepada siapa peluru ditembakkan. kedua, apa alasannya..?

Program-program dan kebijakan pemerintah, yang membutuhkan keuangan untuk menyelenggarakan nya. Sehingga seringkali muncul kritikan dari rakyat selaku investor yg nanti akan memetik hasilnya. Sesuai dengan analogi pistol diatas.
Kritik yg baik, tentu sangat dibutuhkan. Namun sangat disayangkan apabila kritik disampaikan tidak didasari ilmu dan bukti yg konkret. Dalam hal ini peran pemerintah dalam mengedukasi masyarakat tentang uang kita[1] perlu ditingkatkan.

 Kembali lagi, Karena tujuan keuangan Negara adalah mencapai garis finish kesejahteraan rakyat. Maka tidak berlebihan apabila menyertakan masyarakat untuk melihat darimana uang kita, dan untuk apa saja penggunaanya.

Ekspansif bukan berarti boros
      Kebijakan fiskal bagi keuangan Negara, berperan sebagai pengarah kemana denyut keuangan Negara tersebut akan menjalar. Adanya kebijakan fiskal diharapkan dapat mengarahkan penggunaan uang kita  secara pas—tidak berlebihan, alokasi yg tepat dan outcome yang diperoleh sesuai dengan cost yg dikeluarkan.

Ekspansif, dimaknai sebagai kebijakan fiskal yg tujuan akhirnya ialah meningkatkan output perekonomian. Berarti, hasil dari pembangunan itu sendiri diharapkan ada dan terus meningkat.

Konsekuensinya, pemerintah membutuhkan dana yg lebih besar untuk melakukan pembangunan. Kembali lagi, faktor utama dari pembangunan ini yakni output nya yg harus melimpah.

Dalam konteks ini, pemerintah bukan berarti boros dan menghamburkan uang rakyat. Karena hasil-hasil penggunaan uang tersebut yg terus diperhatikan dan ditingkatkan setiap tahunnya.
Akibat dari kebutuhan anggaran yg besar, dibutuhkan lah hutang dan pinjaman. Baik yg berwujud surat berharga, obligasi, maupun lainnya.

      Pemerintah "Hutang Negara semakin banyak, kemampuan membayar pun semakin stabil"

Tidak dapat dipungkiri, mulai dari tahun 2014-2019 kebijakan fiskal yg dianut Indonesia adalah kebijakan fiskal ekspansif. Untuk tahun 2019 sendiri telah menjadi keputusan mutlak presiden pada penyampaian nota keuangan pada tanggal 16 Agustus Kemarin.[2]

Dari data kementerian keuangan jumlah hutang pemerintah mulai tahun 2014 naik secara signifikan, diikuti naiknya kualitas pembangunan yg dilakukan pemerintah. Data pada bulan Juli 2018 hutang pemerintah menyentuh angka  4.253 triliun. Jumlah tersebut naik Rp 26 triliun dari bulan sebelumnya sebesar Rp 4.227 triliun.[3]

Kabar baiknya, peningkatan nominal hutang tersebut sudah diikuti kemampuan pemerintah dalam menilai dan menghitung langkah-langkah pembayaran bahkan pelunasan hutang tersebut dengan semakin baik pula. Pemerintah lebih teliti dalam melihat resiko pembiayaan utang bahkan per satu jenis hutang yg dimiliki.

Kawal penggunaan uang kita

Hutang pemerintah hadir sebagai konsekuensi postur APBN kita. dengan adanya hutang, kebutuhan pembangunan dapat terpenuhi. Tentunya, titik final dalam hal ini adalah tercapainya kesejahteraan rakyat. Sehingga, tidak berlebihan apabila rakyat Indonesia turut mengawal penggunaan uang Negara.

Tanggung jawab membawa Indonesia mencapai tujuan berbangsa tidak pilih kasih hanya menumpang di bahu penyelenggara Negara (pemerintah). Tetapi beban tersebut ada di pundak seluruh rakyat Indonesia. Salah satunya adalah dengan Menghadapi meningkatnya denyut pembangunan di Indonesia, sejalan dengan meningkatnya uang kita, yang salah satu sumber pendapatannya dari hutang pemerintah dengan kritis dan bijak.

Menteri keuangan, ibu sri mulyani dalam wawancaranya bersama katadata.co.id pernah berujar ”Netijen Indonesia, kalau misalnya tahun ini Negara menggunakan 2,200 T untuk belanja, mari sama-sama dengan saya kita cari dimana uang tersebut. Sehingga kita bisa tahu dan bisa mengatakan uang 1 Rupiah ini bisa membuat orang- produktif, tidak miskin dan bahkan menyekolahkan anaknya. Orang-orang tersebutlah yang nantinya akan bisa mengurus dirinya sendiri dan berkontribusi pada perekonomian.”[4]

Keuangan Negara, inklusif untuk kesejahteraan rakyat

Dengan melakukan pengawalan dan realisasi kebijakan pengelolaan keuangan Negara, besar harapan keuangan Negara dapat tumbuh dan semakin meningkat setiap tahunnya. Pertumbuhan yang dimaksud, diharapkan dapat menyokong pembangunan dan membawa bangsa Indonesia ke masa kejayaannya dan kemakmuran dapat sebanyak-banyaknya dinikmati rakyat.

Inklusif berarti banyak orang yang berpartisipasi dan menikmati. Warga Negara diminta untuk aktif, tidak hanya diam. Sehingga kesejahteraan akan dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.

Sejalan dengan apa yang disampaikan menteri keuangan Indonesia di pidatonya tentang peran APBN dalam mewujudkan Negara Indonesia di depan Gubernur Bank Indonesia, Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabarhakam) seluruh Indonesia di Gedung Thamrin, kantor Bank Indonesia, Jakarta pada Jumat (17/11/2017)

“Menciptakan suatu kondisi ekonomi dimana dia terus mengalami pertumbuhan,.tidak hanya sekedar tumbuh, namun juga dia harus lebih berkualitas baik yaitu menciptakan secara inklusif artinya makin banyak yang bisa mengikuti, berpartsipasi dan menikmati pertumbuhan ekonomi itu sendiri dan harus berkelanjutan,” papar Menkeu.[5]   

Tanpa pengelolaan yang cerdas, penerimaan Negara yang melimpah pun tidak akan berguna. Ditambah lagi fakta bahwa sebenarnya Negara kita memiliki sumber daya alam melimpah namun masih kekurangan sumber daya manusia yang dapat mengolahnya dengan baik. Maka jelas, pemerintah sebagai penyelenggara Negara dan masyarakat Indonesia sendiri masih harus bekerja keras mengawal manajemen keuangan sehingga keuangan Negara dapat benar-benar bermanfaat untuk pembangunan bangsa, agar keuangan Negara dapat mengalami pertumbuhan. Tumbuh yang bukan hanya tumbuh saja, tetapi dapat mengikutsertakan lebih banyak orang sebagai partisipan maupun penikmat hasil pembangunan, tumbuh secara inklusif.




[1] Istilah APBN yang dicetuskan kemenkeu
[2] Informasi diperoleh dari website kemenkeu
[3] Data dari website kompas.com berdasarkan informasi dari Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Resiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman
[4] Video Wawancara diupload di wesbsite kementerian keuangan dengan judul “Bicara utang Indonesia”
[5] Dikutip dari website kemenkeu, artikel berita berjudul ”Menkeu : setiap kita memegang peran untuk mewujudkan cita-cit negara”

Popular Posts

Recent Posts

Unordered List

Text Widget

Blog Archive

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.